WOODIES – Asap Sudah Sampai ke Paru-Paru. Kapan Evaluasi Menyentuh Akar Masalah?

Profil Bencana Karhutla Kalimantan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah peristiwa terbakarnya kawasan hutan dan/atau lahan akibat faktor alam maupun ulah manusia, dengan dampak mulai dari ekologi, ekonomi, sosial budaya, hingga politik. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat kerugian negara akibat karhutla pada 2025 mencapai Rp6,7 triliun dengan luas area terbakar 359.619 hektare, sementara pada 2024 tercatat 629 kejadian dengan luas 376.805 hektare.

Sebagai gambaran skala terparah, karhutla 2015 menjadi salah satu bencana kabut asap terburuk dalam sejarah Indonesia dengan luas terbakar 2,6 juta hektare, menewaskan 24 orang, membuat 600 ribu orang terkena Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA), dan memapar lebih dari 60 juta orang. Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonominya mencapai USD 16,1 miliar atau setara Rp221 triliun, setara dengan 1,9 persen PDB Indonesia saat itu.

Data SiPongi mencatat luas karhutla Januari–Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare, melonjak hingga 366% dibanding periode sama 2025. Secara nasional, dampaknya kini dirasakan oleh lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota yang terpapar langsung kabut asap. Di Kalimantan sendiri, titik panas tertinggi tercatat di Kalimantan Tengah (767 titik) dan Kalimantan Barat (560 titik).

Gambar 1. Persebaran karhutla di seluruh Indonesia, diambil dari situs SiPongi+, per 23 Agustus

Suara dari Balik Kabut Pekat: Kisah Warga Kalimantan yang Terbiasa Bernapas dalam Asap 

Bagi warga Kalimantan, fenomena ini bukan hal baru. Setiap musim kemarau tiba, asap kerap datang begitu tebal hingga nyaris menutup pandangan sama sekali. Kabut asap yang ditimbulkannya menurunkan kualitas udara, memperpendek jarak pandang, dan memaksa banyak orang membatasi kegiatan di luar rumah. “Hampir seumur hidup terpapar kabut asap setiap tahun,” tutur seorang warga di Banjarbaru, menggambarkan bagaimana kondisi ini telah menjadi bagian tak terelakkan dari hidup mereka. Warga lain melukiskan pengalamannya dengan lebih rinci: “Aromanya seperti sampah terbakar, asapnya pekat sekali dan berasa apek banget.”

Api Padam, Tapi Mengapa Karhutla Selalu Kembali? 

Karhutla di Kalimantan bukan semata-mata disebabkan oleh musim kemarau atau cuaca panas. Salah satu akar masalahnya adalah perubahan kondisi ekosistem gambut akibat aktivitas manusia. Kalimantan memiliki sekitar 4,5 juta hektare lahan gambut yang secara alami lembap sehingga relatif sulit terbakar.

Salah satu gangguan utama adalah pengeringan gambut melalui kanal atau saluran drainase yang menurunkan muka air tanah dan membuat gambut lebih kering. Pembukaan lahan dan praktik pembakaran turut meningkatkan risiko kebakaran, sementara api pada gambut dapat merambat hingga ke bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.

Kondisi ini semakin diperparah oleh iklim dan cuaca, termasuk El Niño yang sangat kuat pada Agustus 2026 yang menyebabkan kondisi lebih kering. Karhutla kemudian menjadi siklus yang terus berulang ketika kerusakan ekosistem, aktivitas pembukaan dan pembakaran lahan, serta persoalan tata kelola dan pengawasan tidak sepenuhnya teratasi, sehingga persoalan ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai bencana alam.

Minimnya Pemenuhan HAM atas Masifnya Lonjakan Titik Api di Kalimantan

Kebakaran hutan dan lahan berdampak fatal karena mengancam hak atas hidup dan lingkungan yang sehat bagi jutaan warga. Paparan kabut asap memicu lonjakan ratusan ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) serta risiko penyakit jantung dan stroke di Kalimantan. Selain itu, jarak pandang yang turun hingga 200 meter mengganggu aktivitas dan keselamatan transportasi masyarakat.

Karhutla turut menghambat pemenuhan hak atas pendidikan. Hingga Jumat (22/8/2026), sebanyak 3.524 satuan pendidikan yang mencakup 571.338 murid di Kalimantan telah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan ini dijalankan atas arahan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) karena kabut asap semakin tebal di sejumlah wilayah, termasuk Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kayong Utara, Kota Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kota Banjarbaru. PJJ dipilih untuk melindungi keselamatan siswa dari paparan asap, meskipun efektivitasnya belum sepenuhnya dapat menggantikan pembelajaran tatap muka.

Dari sisi ekonomi, karhutla dapat melumpuhkan kegiatan masyarakat dan memperluas ancaman kelaparan. Pendapatan sejumlah pedagang menurun karena masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah. Pengemudi ojek online juga harus bekerja dalam kondisi yang lebih berat, seperti mata perih, napas terasa sesak, dan jarak pandang yang terbatas. Gangguan transportasi kemudian menghambat mobilitas pekerja, distribusi barang, perdagangan, dan berbagai kegiatan usaha. Di beberapa wilayah, api bahkan telah mendekati permukiman warga. Kondisi ini semakin berbahaya karena sebagian area yang terbakar merupakan lahan gambut.

Hingga Juli 2026, kebakaran telah menghanguskan 33.837 hektare lahan di Kalimantan dan diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar USD 186,1 juta hingga USD 209,8 juta, atau setara dengan Rp3,30 triliun hingga Rp3,71 triliun berdasarkan kurs Rp17.700 per dolar.

Besarnya kerugian tersebut menunjukkan bahwa dampak finansial karhutla tidak berhenti pada nilai kayu atau tanaman yang hangus. Sebagai perbandingan, karhutla nasional pada 2019 membakar lebih dari 942 ribu hektare lahan dan, menurut perkiraan Bank Dunia, menimbulkan biaya ekonomi sedikitnya USD 5,2 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar 0,5% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dari perspektif hak asasi manusia (HAM), krisis ini bukan sekadar persoalan asap, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan negara dalam mencegah dan mengendalikan karhutla serta melindungi masyarakat dari dampaknya. Tanggung jawab tersebut sejalan dengan UU No. 39 Tahun 1999 sebagai salah satu landasan utama perlindungan HAM di Indonesia.

Sejauh Mana Efektivitas Regulasi Pemerintah Soal Karhutla?

Pemerintah pada dasarnya telah menggulirkan empat program utama penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yakni pemantauan dan deteksi dini melalui patroli terpadu serta pemadaman darat maupun udara, pengelolaan serta pemulihan ekosistem lahan gambut, penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan, hingga penegakan hukum bagi para pelanggar. Komitmen tersebut semakin diperkuat dengan penerbitan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup pada 10 Agustus 2026 yang secara tegas melarang segala bentuk aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar. Langkah regulatif ini diambil guna mempertegas sanksi serta menekan potensi kemunculan titik api baru di wilayah-wilayah yang tergolong rawan bencana.

Meskipun serangkaian kebijakan dan program strategis tersebut telah dijalankan secara berkesinambungan, efektivitas penerapannya di tingkat tapak masih menghadapi tantangan yang sangat besar. Berdasarkan laporan Kompas, sebanyak 72 tersangka telah ditangkap oleh aparat penegak hukum atas dugaan kasus pembukaan lahan secara ilegal dengan cara membakar di kawasan Kalimantan hingga Sumatra. Maraknya kasus penangkapan ini menjadi bukti nyata bahwa regulasi mengenai larangan pembakaran lahan belum sepenuhnya dipatuhi oleh masyarakat maupun entitas korporasi, sehingga celah pengawasan serta potensi pelanggaran hukum masih terus terjadi di lapangan.

Realita berulangnya insiden karhutla di berbagai provinsi setiap tahunnya menunjukkan bahwa pendekatan yang ada saat ini belum mampu menyelesaikan akar permasalahan secara tuntas. Dampak buruk yang ditimbulkan, mulai dari krisis kesehatan masyarakat akibat paparan asap pekat, terganggunya aktivitas ekonomi, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati, menuntut adanya transparansi serta pembenahan sistemik. Kondisi yang memprihatinkan ini memicu pertanyaan krusial mengenai langkah evaluasi mendasar dan upaya inovatif tambahan apa lagi yang harus segera ditempuh oleh pemerintah bersama pemangku kepentingan agar penanganan karhutla dapat berjalan secara optimal, adil, dan berkelanjutan.

Gambar 2. Perkembangan luas kebakaran hutan dan lahan di lima provinsi di Kalimantan. Sumber: SiPongi Kementerian Kehutanan.

Siapa yang Berperan dalam Memutus Siklus Karhutla? 

Penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak. Kolaborasi pemerintah, organisasi swadaya masyarakat, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat diperlukan sejak tahap pencegahan hingga respons ketika kebakaran terjadi.

Pemerintah telah melakukan koordinasi lintas sektor, pembentukan satgas, pemantauan titik api, patroli, serta pemadaman darat dan udara. Di Kalimantan Tengah, status siaga darurat karhutla ditetapkan sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026, sementara di Kalimantan Selatan sekitar 387 personel gabungan dikerahkan dengan dukungan water bombing. Polda Kalimantan Barat juga telah menangani 12 kasus dan menetapkan 9 tersangka sepanjang 2026. Namun, pencegahan tetap perlu diperkuat melalui pengelolaan gambut, sistem peringatan dini, dan penegakan hukum yang konsisten. Lembaga swadaya masyarakat turut berperan melalui aksi lapangan dan advokasi. Greenpeace Indonesia melalui Tim Cegah Api melakukan pemantauan dan membantu pemadaman, sementara Yayasan Gemawan memperkuat kapasitas Masyarakat Peduli Api (MPA). WALHI juga melakukan pemantauan wilayah konsesi dan mendorong penegakan hukum.

Dalam aspek kesehatan, mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan dapat berkontribusi melalui edukasi bahaya asap, perlindungan kelompok rentan, dan promosi kesehatan sesuai kompetensi. Pada 2026, Kementerian Kesehatan telah mengerahkan 314 tenaga kesehatan dan 278.940 masker ke tujuh provinsi terdampak. Masyarakat pun menjadi garda terdepan dengan tidak membakar lahan, melaporkan titik api sejak dini, dan terlibat dalam pencegahan berbasis komunitas. Karhutla tidak hanya perlu dipadamkan, tetapi juga dicegah agar tidak kembali terjadi.

Saat Karhutla Terjadi, Perlindungan Seperti Apa yang Harus Dilakukan 

Saat karhutla terjadi, asap dan polutan yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Oleh karena itu, perlindungan yang harus dilakukan, yaitu: 

  • Mengurangi paparan asap: Membatasi aktivitas di luar ruangan dan menghindari perjalanan yang tidak diperlukan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus berada di luar ruangan, gunakan masker berfiltrasi tinggi seperti N95, KN95, atau KF94. 
  • Menjaga kualitas udara di dalam ruangan: Menutup pintu dan jendela ketika asap berada pada tingkat tinggi serta, apabila tersedia, menggunakan penyaring udara untuk mengurangi masuknya asap dari luar.
  • Melindungi kelompok rentan dan mengikuti arahan resmi: Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta individu dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular memiliki risiko lebih tinggi, sehingga masyarakat perlu memantau informasi resmi mengenai kualitas udara, perkembangan kebakaran, serta mengikuti instruksi pemerintah.

Karhutla Terus Berulang. Lantas, Apa yang Dapat Kita Lakukan Bersama? 

Karhutla yang terus berulang membutuhkan lebih dari sekadar pemadaman. Saatnya mendorong pencegahan yang berkelanjutan, kebijakan yang akuntabel, dan aksi bersama untuk melindungi hak masyarakat atas kesehatan serta lingkungan yang aman dan sehat.   Mulai dari langkah sederhana, kita dapat: 

  • Menyebarluaskan informasi yang akurat mengenai karhutla dan dampaknya dari sumber terpercaya.
  • Mendukung masyarakat terdampak, termasuk melalui donasi kepada lembaga atau organisasi terpercaya.
  • Menyuarakan pentingnya pencegahan karhutla dan mendorong pemerintah serta pihak terkait untuk bertindak secara akuntabel.

REFERENSI

1. Greenpeace Indonesia. 81 tahun merdeka, rakyat Indonesia masih terjebak asap karhutla [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/67616/81-tahun-merdeka-rakyat-indonesia-masih-terjebak-asap-karhutla/](https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/67616/81-tahun-merdeka-rakyat-indonesia-masih-terjebak-asap-karhutla/)

2. Tirto.id. Fakta-fakta kebakaran hutan Kalimantan: update titik dan dampak [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://tirto.id/fakta-fakta-karhutla-kalimantan-update-titik-api-dan-dampaknya-hBDq](https://tirto.id/fakta-fakta-karhutla-kalimantan-update-titik-api-dan-dampaknya-hBDq)

3. Metro TV. Penanganan karhutla didorong difokuskan di lahan gambut sekitar bandara [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://www.metrotvnews.com/read/KYVCeay1-penanganan-karhutla-didorong-difokuskan-di-lahan-gambut-sekitar-bandara](https://www.metrotvnews.com/read/KYVCeay1-penanganan-karhutla-didorong-difokuskan-di-lahan-gambut-sekitar-bandara)

4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Antisipasi dampak karhutla, Kemenkes kerahkan nakes dan logistik ke 7 provinsi [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://kemkes.go.id/eng/antisipasi-dampak-karhutla-kemenkes-kerahkan-nakes-dan-logistik-ke-7-provinsi](https://kemkes.go.id/eng/antisipasi-dampak-karhutla-kemenkes-kerahkan-nakes-dan-logistik-ke-7-provinsi)

5. Mongabay Indonesia. Ketika kebakaran hutan dan lahan menggila di Kalimantan [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/](https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/)

6. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Dampak karhutla, Kemendikdasmen akan terbitkan SE protokol pembelajaran darurat [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/16065-dampak-karhutla-kemendikdasmen-akan-terbitkan-se-protokol-pembelajaran-darurat](https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/16065-dampak-karhutla-kemendikdasmen-akan-terbitkan-se-protokol-pembelajaran-darurat)

7. Jernih.co. Bara Kalimantan: ketika El Niño bertemu ulah tamak manusia [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://jernih.co/moron/bara-kalimantan-ketika-el-nino-bertemu-ulah-tamak-manusia/](https://jernih.co/moron/bara-kalimantan-ketika-el-nino-bertemu-ulah-tamak-manusia/)

8. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Analisis dinamika atmosfer dasarian I Agustus 2026 [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: [https://www.bmkg.go.id/iklim/dinamika-atmosfer/analisis-dinamika-atmosfer-dasarian-i-agustus-2026](https://www.bmkg.go.id/iklim/dinamika-atmosfer/analisis-dinamika-atmosfer-dasarian-i-agustus-2026)

9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menkes: pakai masker dan pantau kualitas udara untuk cegah dampak asap karhutla [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: https://kemkes.go.id/eng/menkes-pakai-masker-dan-pantau-kualitas-udara-untuk-cegah-dampak-asap-karhutla

10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Antisipasi dampak karhutla, Kementerian Kesehatan kerahkan nakes dan logistik ke 7 provinsi [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: https://kemkes.go.id/id/antisipasi-dampak-karhutla-kemenkes-kerahkan-nakes-dan-logistik-ke-7-provinsi

11. World Health Organization. Wildfires [Internet]. 2026 [cited 2026 Aug 23]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/wildfires-and-health

12. World Health Organization. Public health advice during the wildfires: how to protect your health and keep safe [Internet]. 2023 [cited 2026 Aug 23]. Available from: https://www.who.int/europe/news-room/questions-and-answers/item/public-health-advice-during-the-wildfires–how-to-protect-your-health-and-keep-safe

13. World Health Organization. Air pollution: personal interventions and risk communication [Internet]. 2024 [cited 2026 Aug 23]. Available from: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/air-pollution-personal-interventions-and-risk-communication

14. Nafilah, SSK. Kemenkes: Lebih dari 3 Juta Warga RI Kena Asap Karhutla, Kasus ISPA Melonjak 78 Persen [Internet]. detikHealth. detikcom; 2026 [dikutip 23 Agustus 2026]. Tersedia dari: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8630770/kemenkes-lebih-dari-3-juta-warga-ri-kena-asap-karhutla-kasus-ispa-melonjak-78-persen

15. Timorria JIKA. Menakar Besarnya Kerugian Ekonomi dan Lingkungan dari Karhutla [Internet]. Bisnis.com. 2025 [dikutip 23 Agustus 2026]. Tersedia dari: https://hijau.bisnis.com/read/20250724/651/1896020/menakar-besarnya-kerugian-ekonomi-dan-lingkungan-dari-karhutla

16. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. SiPongi Karhutla Monitoring System [Internet]. Jakarta: KLHK; [cited 2026 Aug 23]. Available from: https://SiPongi.menlhk.go.id/

17. CNN Indonesia. 1.487 hotspot terdeteksi di wilayah Kalimantan, terbanyak di Kalteng [Internet]. CNN Indonesia; 2026 Aug 20 [cited 2026 Aug 23]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260820154510-20-1394495/1487-hotspot-terdeteksi-di-wilayah-kalimantan-terbanyak-di-kalteng

CIMSliography

Nasya Kenzia Syaira A. – CHRT CIMSA FKUI

Ummu Salamah – CHRT CIMSA FK YARSI

Asiya Chaniatuttazkiya – CHRT CIMSA ULM

Afaf Haniah – CHRT CIMSA ULM